Workshop Pengelolaan Desa Wisata Malasari dan Visitor Center: Dorong Kemitraan Usaha yang Berkeadilan dan Visitor Center yang Lebih Kuat

Workshop Pengelolaan Desa Wisata Malasari dan Visitor Center: Dorong Kemitraan Usaha yang Berkeadilan dan Visitor Center yang Lebih Kuat

Workshop Pengelolaan Desa Wisata Malasari dan Visitor Center: Dorong Kemitraan Usaha yang Berkeadilan dan Visitor Center yang Lebih Kuat

Bogor, 2 Oktober 2026. Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, berpartisipasi dalam Workshop Pengelolaan Desa Wisata Malasari dan Visitor Center. Workshop diselenggarakan Pemerintah Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pada Jumat (2/10/2026) di Visitor Center Desa Wisata Malasari. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat IPB University.

Workshop mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, pengelola wisata, dan masyarakat setempat dengan tujuan membangun kolaborasi antar para pihak untuk memajukan Desa Wisata Malasari. Desa ini berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), dengan sekitar 78–80 persen wilayahnya termasuk dalam kawasan konservasi.

Empat dosen IPB hadir dalam kegiatan ini: Dr. Eva Rachmawati, Resti Meilani, Dr. Vera Dian Damayanti, dan Priyanto. Dr. Eva menjadi narasumber materi “Kemitraan Usaha Pariwisata yang Berkeadilan di Desa Malasari” serta memoderatori sesi diskusi pertama dan menyampaikan kesimpulan. Resti Meilani memoderatori sesi diskusi kedua dan ketiga. Priyanto dan Dr. Vera Dian Damayanti menjadi penanggap dalam sesi diskusi.

Kemitraan bukan berarti menjual desa
Dalam paparannya, Dr. Eva menekankan bahwa kemitraan usaha pariwisata yang berkeadilan berarti manfaat, risiko, dan keputusan dibagi secara wajar antara mitra usaha dan masyarakat. Karena sebagian besar lahan Malasari berstatus kawasan konservasi atau hak guna usaha perkebunan, kerja sama dirancang sebagai pemanfaatan dan bagi hasil dalam jangka waktu tertentu, bukan jual-beli atau pelepasan hak atas tanah. Kerja sama juga perlu ditempuh melalui lembaga desa dan didahului musyawarah desa agar warga mengetahui dan menyetujuinya sebelum kesepakatan ditandatangani. Dr Eva Rachmawati menyebutkan bahwa masyarakat harus terlibat dalam setiap keputusan terkait kemitraan ini karena mereka yang akan merasakan dampak dari kegiatan tersebut, baik dampak negatif maupun positif. Sehingga dengan terlibat, masyarakat dapat membantu menentukan arah dampak yang diharapkan.

Beragam perspektif untuk satu tujuan
Selain materi kemitraan, workshop membahas peluang dan hambatan pengelolaan Visitor Center oleh Pemerintah Desa Malasari, pemetaan produk wisata oleh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal oleh PPK Ormawa HIMAKOVA IPB, serta mitigasi risiko hukum dalam usaha pariwisata dari Universitas Andalas. Japan Environmental Education Forum (JEEF) turut berbagi pengalaman menyusun rencana induk interpretasi di taman nasional Jepang, yang menempatkan seluruh pelaku di daerah sebagai satu “orkestra” dengan “partitur” cerita dan nilai kawasan yang sama.

Beragam perspektif untuk satu tujuan
Selain materi kemitraan, workshop membahas peluang dan hambatan pengelolaan Visitor Center oleh Pemerintah Desa Malasari, pemetaan produk wisata oleh mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, mitigasi bencana berbasis kearifan lokal oleh PPK Ormawa HIMAKOVA IPB, serta mitigasi risiko hukum dalam usaha pariwisata dari Universitas Andalas. Japan Environmental Education Forum (JEEF) turut berbagi pengalaman menyusun rencana induk interpretasi di taman nasional Jepang, yang menempatkan seluruh pelaku di daerah sebagai satu “orkestra” dengan “partitur” cerita dan nilai kawasan yang sama.

Peserta juga mencatat perlunya prospektus investasi serta digitalisasi administrasi dan dokumentasi di desa. Sekretaris Desa Malasari, Ibu Suryati, mengharapkan kolaborasi berkelanjutan dari berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha/UMKM, dan pengelola wisata, untuk mewujudkan desa wisata Malasari yang berkelanjutan. IPB University berkomitmen melanjutkan pendampingan bagi Desa Wisata Malasari agar menjadi desa wisata yang maju, mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing.(ER/@W)


Penulis: Dr. Eva Rachmawati