International Forestry Students’ Association (IFSA/LC-IPB): Asia Pacific Regional Meeting (APRM) 2025
International Forestry Students’ Association (IFSA) adalah organisasi kemahasiswaan internasional yang menghubungkan mahasiswa kehutanan dari berbagai penjuru dunia melalui berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kolaborasi dalam isu-isu kehutanan dan lingkungan global. Keanggotaan IFSA mencakup 141 komite lokal di 64 negara,termasuk lima komite lokal di Indonesia, yaitu IFSA LC-IPB, IFSA LC-UGM, IFSALC-ITB, IFSA LC-UNHAS, dan IFSA LC-ULM yang berada di bawah wilayah IFSA Asia Pasifik. Sebagai organisasi nonpemerintah, non-politik, non-profit, dan sekuler, IFSA selalu berusaha untuk memperkaya pendidikan anggotanya melalui kegiatan internasional, jejaring internasional dan pertukaran budaya terutama dalam bidang kehutanan dan lingkungan.
APRM (Asia Pacific Regional Meeting) merupakan platform yang mempertemukan anggota-anggota IFSA dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik untuk berdiskusi mengenai isu-isu kehutanan terkini, berbagi pengalaman dan praktik terbaik, serta merancang strategi bersama guna mencapai pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Pertemuan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemuda dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui penerapan kerja sama hijau (green cooperation), yang melibatkan kolaborasi lintas negara dan sektor untuk menciptakan solusi inovatif terhadap tantangan lingkungan di kawasan Asia Pasifik.
Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB dalam hal ini Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata mengirimkan mahasiswa dalam IFSA Asia Pacific Regional Meeting akan dilaksanakan pada tanggal 29 Juni – 6 Juli 2025 di Seoul, Korea. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemuda dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya melalui penerapan kerja sama hijau (green cooperation), yang melibatkan kolaborasi lintas negara dan sektor untuk menciptakan solusi inovatif terhadap tantangan lingkungan di kawasan Asia Pasifik.
Hari pertama dimulai dengan kunjungan ke National Institute of Forest Science (NiFoS). Peserta mempelajari peran hutan dalam mitigasi perubahan iklim, termasuk bagaimana pengelolaan hutan dapat mendukung aksi iklim secara global. Selain itu peserta diperkenalkan dengan berbagai teknologi dan instrumen pemetaan hutan yang digunakan dalam penelitian kehutanan modern. Opening Ceremony berlangsung di Kookmin University, sebagai momentum resmi pembukaan APRM yang dihadiri oleh berbagai perwakilan dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Rangkaian agenda hari pertama ditutup dengan kuliah umum mengenai sejarah restorasi hutan Korea oleh Prof. Emeritus Kyung Joon Lee, yang memberikan wawasan mengenai perkembangan pengelolaan hutan di Korea dari masa lalu hingga saat ini.
Pada hari kedua peserta diperkenalkan dengan konsep seed vault, yaitu fasilitas penyimpanan benih yang berfungsi untuk menjaga keanekaragaman hayati tanaman dari ancaman kepunahan. Dalam mempeerat inetraksi kegiatan dilanjutkan dengan International Night yaitu masing-masing negara peserta menampilkan dann memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner khas setiap negara.
Dilanjutkan hari ketiga dengan kunjungan ke Dohwa Hill untuk melihat langsung lokasi bekas kebakaran hutan. Peserta mempelajari berbagai aspek pengelolaan pasca kebakaran hutan, mulai dari upaya rehabilitasi, pemulihan ekosistem, strategi pencegahan hingga agar kebakaran serupa tidak terulang. Agenda dilanjutkan dengan IFSA Workshop yang mencakup sesi idea pitching contest serta delegasi mempresentasikan ide-ide inovatif tentang isu kehutanan dan lingkungan di kawasan Asia Pasifik. Rangakaian acara ditutup dengan memilih Asia Pacific Regional Representative dan penentuan tuan rumah APRM Tahun 2026, serta dengan auction, yaitu lelang barang-barang unik yang dibawa oleh masing-masing delegasi dari negaranya yang hasilnya dialokasikan untuk mendukung pendanaan kegiatan IFSA Global.
Hari keempat diisi dengan kunjungan ke Kangwon University Experimental Forest. Seluruh peserta mendapatkan materi mengenai entomologi dan hama hutan. Selain itu, peserta juga mempelajari disease and pest management untuk menjaga kesehatan pohon dan ekosistem hutan secara berkelanjutan. Selain itu peserta diperkenalkan dengan topik mengenai paper material dan wood science. Tujuannya adalah peserta diberikan pemahaman tentang potensi hasil hutan bukan kayu dan pemanfaatan kayu dalam berbagai industri, serta bagaimana inovasi berbasis kayu dapat mendukung pembangunan berkelanjutan. Ditutup dengan agenda poster presentation, dimana Delegasi dari IPB University mempresentasikan penelitian mengenai pengetahuan masyarakat adat Kasepuhan Cipta Mulya dalam mengelola hutan, yang memperlihatkan bagaimana kearifan lokal berperan penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya hutan.
Hari kelima dimulai dengan kunjungan ke Korea National Arboretum. Delegasi mendapatkan pemaparan materi mengenai sejarah, fungsi, dan pengelolaan arboretum nasional Korea, termasuk penjelasan khusus mengenai serangga dan keanekaragaman hayati hutan (forest biodiversity). Kegiatan selanjutnya, peserta diajak untuk melakukan excursion berkeliling arboretum dalam kegiatan forest interpretation, yang memberikan pengalaman langsung dalam mempelajari jenis-jenis koleksi tumbuhan yang adi di Korea National Arboretum dan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan di Forest Technology and Management Research Center. Delegasi mempelajari inovasi dalam smart tree nurseries atau pembibitan pohon pintar yang memanfaatkan teknologi modern, serta diperkenalkan dengan berbagai forest machinery yang digunakan dalam pengelolaan hutan secara efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan APRM Korea pada hari terakhir atau keenam dilaksanakan di Kookmin University, yaitu dengan kuliah dari AFoCO (Asian Forest Cooperation Organization), dilanjutkan dengan IFSA Panel Discussion, yang menghadirkan diskusi interaktif antara panelis dan peserta mengenai tantangan serta peluang pengelolaan hutan di kawasan Asia Pasifik. Sesi berikutnya diisi dengan IFSA Workshop, setiap kelompok delegasi diberikan isu tertentu terkait kehutanan dan lingkungan untuk menemukan solusi, inovasi setiap kelompok serta merumuskan hasil diskusi dipresentasikan di hadapan peserta lain, menciptakan ruang berbagi ide dan memperkuat kolaborasi antar mahasiswa kehutanan internasional. Selanjutnya kegiatan dilanjutkan di Forest Technology and Management Research Center. Delegasi mempelajari inovasi dalam smart tree nurseries atau pembibitan pohon pintar yang memanfaatkan teknologi modern, serta diperkenalkan dengan berbagai forest machinery yang digunakan dalam pengelolaan hutan secara efisien dan berkelanjutan.(ANF/RT/MSH/@W).
Kontributor :
Annisa Nur Fadillah & Ramadaniasakina T.
Delegasi IFSA LC-IPB
Sustainable development goals:
SDGs-5; SDGs-9; SDGs-13; SDGs-15; SDGs-17
Category :
Learning Program; Research and Innovation; Community Engagement