LearningProgramNewsPartnership_GovernmentResearch&InnovationSlider Content

Memantau Satwa Liar dengan Mata Kamera : Penggunaan Camera Trap dan Drone UAV

Bogor, 9 Februari 2021. Indonesia sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas tertinggi kedua di dunia merupakan anugerah dan modal dasar pembangunan berkelanjutan yang perlu selalu dijaga kelestariannya. Sementara, kerusakan lingkungan seperti kebakaran hutan, eksploitasi sumberdaya alam (SDA) secara berlebihan merupakan tantangan dalam menjaga biodiversitas khususnya jenis-jenis satwa liar yang kini statusnya diambang kepunahan. Demikian pula dengan ketersediaan data mengenai biodiversitas satwa liar di Indonesia masih minim dan terbatas sehingga dalam ini akan mempersulit upaya konservasi biodiversitas hutan, khususnya satwa liar di hutan nusantara dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaataan salah satu SDA ini di masa mendatang.

Hal ini yang mendorong Dr Dede Aulia Rahman, salah seorang dosen dan peneliti konservasi biodiversitas hutan di Divisi Ekologi dan Manajemen Satwa Liar, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, melakukan sebuah kajian untuk menjawab fenomena yang sangat penting tersebut sehingga dapat menjawab tantangan terkait pengumpulan data ekologi dan potensi satwa liar di Indonesia yang masih sangat terbatas melalui penggunaan teknologi modern terkini.

Melalui dukungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional Republik Indonesia, di bawah skema Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT), dalam studi terbarunya, Dr Dede melakukan optimasi pendataan serta monitoring satwaliar dengan memanfaatkan teknologi kamera tangkap (camera trap) yang berfungsi seperti CCTV yang dilengkapi sensor gerak, dan drone yang dilengkapi dengan sensor thermal untuk memantau satwa liar di hutan nusantara. Dr Dede menambahkan bahwa dengan menggunakan alat-alat ini pemantauan dan pendataan satwa liar yang sulit bahkan berbahaya untuk dipantau seperti satwa yang buas menjadi lebih mungkin dan mudah.