NewsPartnership_GovernmentPartnership_NGOSciencePolicyInterfaceSlider Content

11th Fahutan Talk Series: Membumikan Eco-sofi dalam Konservasi Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Setelah sesi paparan utama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan dari 5 penanggap yang tidak diragukan lagi keilmuannya dalam bidang pengeloaan SDA dan lingkungan. Pada kesempatan pertama, Prof. Arif Satria (Rektor IPB University) menyampaikan Ecosofi dalam perspektif manusia unggul dalam hubungannya dengan etika relasi dengan Tuhan YME, sesama manusia maupun dengan alam (yang tidak mendominasi). Beliau menyampaikan bahwa buku Ecosofi ini hadir sebagai basis untuk memperkuat dan mengatasi masalah dominansi manusia atas alam (paham anthropocentrism). Melandasi 3 pilar bisnis konservasi alam (normatif, regulatif dan kognitif) dengan Ecosofi berarti membuat semua hal menjadi lebih pro lingkungan.

Selanjutnya, Ir. Wiratno, MSc (Dirjen KSDAE, KLHK) menyampaikan intisari dari Ecosofi adalah menghargai semua mahluk ciptaan Tuhan dan kesamaan hak seluruh komunitas ekologis sebagai suatu etika praktis sehingga Ecosofi ini harus diterapkan dalam aspek praktek pengelolaan kehutanan.

Ir. Sarwono Kusumaatmadja (Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Indonesia DPPPI) menyebutkan bahwa diperlukan rekognisi bagi seseorang yang memiliki pemahaman dan implementasi Ecosofi yang mendalam sehingga dapat dilibatkan dalam kegiatan pengajaran di lembaga pendidikan sehingga konsep Ecosofi ini menjadi lebih membumi.

Dr. Aca Sugandi (Anggota Dewan Pertimbangan Kalpataru) juga menyampaikan catatan penting lainnya yaitu diperlukannya era baru setelah 75 tahun kemerdekaan secara benar-benar membumikan upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan berbasis Ecosofi secara inovatif dan kreatif sebagai paradigma baru dalam mendukung upaya pembangunan berkelanjutan sehingga tercapai kesejahteraan umat manusia. Pada kesempatan akhir,

Dr. Nyoto Santoso (Ketua Departemen KSHE), menyampaikan pengalaman beliau khususnya terkait penerapan pengelolaan mangrove yang merupakan salah satu implementasi dalam Ecosofi. Lebih lanjut Dr. Nyoto menyampaikan bahwa dalam tata kelola mangrove misalnya dalam Ecosofi diperlukan reorientasi yang berbasis etik, modal sosial dan kearifan tradisional maka kebijakan yang dibuat tidak dibuat secara general (umum) tetapi disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekitar.

Dalam penutupan akhir dilakuakn pembacaan kesimpulan diskusi yang disampaikan oleh Prof. E.K.S. Harini Muntasib, beliau menyebutkan bahwa ada 8 (delapan) point penting yang harus menjadi konsen bersama terkait kegiatan Fahutan Talk Series ke-11, yaitu: 1) masalah sumberdaya alam dan lingkungan hidup telah berkembang menjadi krisis lingkungan global yang berdampak serius terhadap keberlanjutan kehidupan manusia dan pembangunan. Sebagai reaksi atas krisis ini, sejak memasuki abad 20 telah tumbuh dan berkembang pergerakan lingkungan dengan pendekatan Ecosofi, 2) prinsip Ecosofi merupakan Filosofi keseimbangan yang bijak berlandaskan kesatuan utuh 3 dimensi yaitu intelektual, spiritual dan emosional, 3) hubungan manusia dengan alam itu perlu lebih diperhatikan, yang didasarkan pada etika, jadi perlu ada moral terhadap alam, 4) basis Ecosentrism perlu diperkuat dalam bentuk reorientasi pandangan hidup – green ethic; greening policy, greening scientist, 5) Ecosofi sebagai bagian dari deep ecology maka berarti menghargai semua mahluk ciptaan Tuhan dan kesamaan hak seluruh komunitas ekologis sebagai suatu etika dan tantangan.

Bagaimana menterjemahkan dalam sustainable development planning dan implementasi nya, tantangan nya adalah keserakahan, kemiskinan, inkonsistensi, tatakelola, ego vs kesadaran dan leadership. Selain itu perlu diperhatikan social capital. Konservasi lintas batas: multistakeholder, multidisiplin, multi level leadership, interfaith dan multietnik, 6) perlunya penghargaan kepada para pihak yang berkarya langsung di lapangan dalam bentuk formal dari perguruan tinggi, 7) perlunya Ecosofi dalam praktek-praktek nyata dan Ecosofi dalam ruang wilayah perlu diperhatikan, 8) dalam tingkat tapak misalnya pengelolaan mangrove kepada para pihak (masyarakat, pengambil keputusan di daerah dll) maka pengaplikasian Ecosofi antara lain dengan cara tata kelola, reorientasi secara scientific, policy dan ethic.(DAR/@W)

Penulis : Dr. Dede Aulia Rahman